Jembatan Kebaikan

CeKa Vol. 11 – Tidak semua orang harus menjadi matahari. Ada yang menjadi lilin. Dan ada pula yang tidak bercahaya sama sekali, ia hanya menjadi jembatan. Matahari menerangi dari jauh, lilin menemani dalam gelap, sementara jembatan menghubungkan, dari yang jauh menjadi dekat, dari yang berat menjadi mungkin, dari yang hampir menyerah menjadi kembali berjalan. Jembatan tidak pernah menjadi tujuan. Ia hanya membuat orang sampai.

Dalam sebuah majelis ilmu, seorang guru pernah memperhatikan seorang murid yang sejak tadi duduk di pojok ruangan. Kepalanya tertunduk, matanya terpejam, dan tubuhnya beberapa kali terangguk. Ia mengantuk. Sang guru tidak menegurnya di depan orang banyak. Ia menunggu sampai majelis selesai.

Ketika semua orang mulai beranjak pulang, sang guru memanggil murid itu dan bertanya dengan lembut, “Kamu kenapa mengantuk?”

Murid itu terdiam sejenak, lalu tersenyum malu. “Maafkan saya, Ustadz. Semalam saya tidak tidur.”

“Kenapa?”

“Saya kerja sampai pagi. Siangnya harus ke sini. Kalau saya tidak kerja, saya tidak bisa bayar biaya hidup dan sekolah.”

Sang guru terdiam. Wajahnya tidak menunjukkan marah, hanya ada semacam keprihatinan yang dalam. Ia lalu berkata, “Terima kasih sudah tetap datang. Mungkin hari ini kamu tidak menangkap banyak pelajaran. Tapi langkah kakimu ke sini lebih mahal dari sekadar duduk rapi dan terjaga.”

Percakapan itu rupanya didengar oleh seorang murid lain yang belum jauh melangkah. Ia berhenti, lalu mendekat. Dengan ragu, ia berkata, “Ustadz… kalau boleh, mulai bulan ini biar saya yang menanggung biaya sekolah dan hidup dia. Saya masih sanggup.”

Murid yang mengantuk itu terkejut. “Jangan… saya tidak enak.”

Ia tersenyum. “Dulu saya bisa belajar dengan tenang karena orang lain menolong saya. Sekarang biarkan saya yang gantian.”

Sang guru memandang mereka berdua, matanya berkaca-kaca. Hari itu tidak ada ceramah panjang. Tapi semua yang hadir belajar tentang satu hal yang jauh lebih besar, bagaimana kebaikan berpindah dari satu hati ke hati yang lain.

Sering kali kita mengira kebaikan itu harus selalu berupa sesuatu yang besar dan mencolok. Kita membayangkan memberi dalam jumlah besar, berbuat dalam skala besar, atau menjadi sosok yang luar biasa. Padahal, banyak kebaikan justru hadir dalam bentuk yang sederhana, menghubungkan satu kesulitan dengan satu kelapangan.

Menjadi jembatan kebaikan artinya bersedia menjadi penghubung antara dua keadaan, antara yang mampu dan yang membutuhkan, antara yang kuat dan yang hampir menyerah. Kita tidak harus selalu menjadi penyelesai masalah. Kadang cukup menjadi penghubungnya.

Jembatan tidak pernah bertanya siapa yang lewat di atasnya. Ia tidak memilih-milih. Ia hanya ada, dan karena keberadaannya, orang bisa sampai ke seberang.

Begitulah seharusnya kita dalam hidup. Tidak semua orang harus menjadi matahari yang cahayanya terlihat semua orang. Tidak semua orang harus menjadi lilin yang menemani dari jarak dekat. Sebagian dari kita cukup menjadi jembatan, mempertemukan yang bisa menolong dengan yang perlu ditolong.

Yang indah dari kisah itu adalah: sang murid yang menolong bukan sedang pamer kebaikan. Ia hanya sedang menyambung satu rantai kebaikan yang dulu pernah ia terima. Kebaikan memang seperti itu. Mengalir. Berpindah. Mencari jalan.

Dan sering kali, Allah tidak menurunkan pertolongan langsung dari langit. Ia mengirimkannya lewat tangan manusia.

Mungkin hari ini kita belum mampu menjadi matahari. Mungkin kita juga belum sanggup menjadi lilin. Tapi barangkali kita bisa menjadi jembatan. Menghubungkan satu doa dengan satu jawaban. Menghubungkan satu kesempitan dengan satu kelapangan. Menghubungkan satu air mata dengan satu harapan.

Dan jika kelak Allah bertanya, “Apa peranmu dalam menolong hamba-hamba-Ku?” semoga kita bisa menjawab dengan jujur, “Ya Allah, aku tidak menyelesaikan semuanya. Aku hanya berusaha menjadi jembatan.”

Karena sering kali, satu jembatan kecil lebih berarti daripada seribu niat baik yang tidak pernah benar-benar menghubungkan siapa pun.

Tegal Binangun
Sabtu, 10/01/2026.

Tinggalkan komentar